Perawatan Pencegahan Gigi Berlubang untuk Anak

Siapa yang setuju kalau mencegah lebih baik daripada mengobati?

Tentunya memang mencegah lebih baik ya parents, dan apabila gigi sudah banyak yang berlubang tentunya biaya yang perlu dikeluarkan orang tua juga semakin besar. Jadi yuk kita jaga gigi kita dan anak-anak kita sebaik mungkin supaya terhindar dari gigi berlubang dan masalah kesehatan gigi lainnya. Nah, sebenarnya ada loh berbagai perawatan pencegahan / preventif yang bisa dilakukan di klinik gigi, yang memang sangat berguna untuk mencegah timbulnya gigi berlubang. Kita baca penjelasannya lebih lanjut yaa.

Apa itu tindakan preventif?

Tindakan preventif atau pencegahan ini sama seperti namanya, bertujuan untuk mencegah terjadinya suatu penyakit atau kelainan. Seperti diketahui, mencegah lebih baik dari pada mengobati. Lebih baik dari segi biaya, waktu, risiko rasa sakit yang kita rasakan, maupun komplikasi yang bisa terjadi. Belum semua orang sadar perlunya pencegahan terutama dalam kesehatan gigi dan mulut. Paradigma “belum sakit kenapa ke dokter?” masih ada di masyarakat. Memeriksakan kesehatan dilakukan bukan hanya saat kita merasakan keluhan atau merasa sakit, karena ada penyakit yang tidak terasa keluhannya tau-tau sudah berada di fase lanjut. Anda tentu sudah akrab dengan anjuran “periksa tiap 6 bulan sekali ke dokter gigi”. Berikut penjelasannya.

Pemeriksaan rutin

Pemeriksaan pertama ke dokter gigi dianjurkan saat usia 1 tahun atau saat gigi pertama anak tumbuh. Pertumbuhan gigi geligi dan “gigitan” perlu dimonitor. Pemeriksaan/kontrol rutin ini bertujuan agar dapat segera dilakukan pencegahan, deteksi awal, dan penanganan apabila terdapat masalah kesehatanan gigi dan mulut.

Menurut penelitian, jumlah perawatan dan biaya yang diperlukan pada anak dengan risiko karies tinggi, akan lebih sedikit jika sudah terdeteksi pada usia dini (lebih awal lebih baik). Jadi, lebih awal seorang anak diperiksa oleh dokter gigi, maka akan semakin sedikit perawatan dental yang perlu dilakukan. Sebaliknya, jika diagnosis atau perawatan tertunda, penyakit/kerusakannya akan lebih ekstensif dan biayanya semakin mahal.

Periode kontrol tiap orang bisa berbeda. Hal ini berdasarkan status risiko/kerentanan tiap individu terhadap karies atau penyakit gigi dan mulut lainnya. Contohnya anak A perlu kontrol tiap 3 bulan sedangkan anak B cukup tiap 6 bulan saja. Karies merupakan masalah kesehatan yang paing sering ditemukan baik pada anak mapun dewasa. Penelitian menunjukkan bawah apabila gigi susu anak ada yang berlubang, tinggi kemungkinan gigi permanennya pun akan berlubang. Hal ini berhubungan dengan faktor risiko karies tiap individu.

Penilaian risiko karies

Penilaian risiko karies merupakan elemen kunci pada perawatan pencegahan untuk anak dan dewasa. Sifatnya individual dan spesifik, berbeda pada tiap orang. Kategori risiko karies yaitu: risiko tinggi, sedang, rendah. Penilaian risiko karies perlu dilakukan sejak pertama kali anak ke dokter gigi dan dinilai secara berkala tiap kunjungan. Tujuannya yaitu untuk mengantisipasi dan mencegah karies dengan cara: (1) menentukan risiko karies tiap pasien (mana yang berisiko tinggi, sedang, dan rendah), (2) mengembangkan tindakan pencegahan dan penanganan karies tiap pasien, (3) membantu dokter gigi menentukan interval kunjungan/tindakan dental untuk tiap pasien.

Faktor penyebab karies bermacam-macam, seperti bagaimana konsistensi air ludah atau jaringan gigi tiap orang yang berbeda-beda, bakteri, konsumsi makanan, asupan fluoride. Oleh karena itu, dokter gigi akan menanyakan hal-hal tersebut lalu dikombinasikan dengan pemeriksaan rongga mulut (apakah ada gigi berlubang, bercak putih, bercak coklat, tambalan, gigi yang dicabut karena lubang besar) sehingga didapatkan “Risiko Karies Individu”.

Beberapa penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa pengalaman karies pada gigi susu bisa menyebabkan kemungkinan lebih besar gigi tetapnya juga akan berlubang. Anak usia sekolah sekitar 6-10 tahun berada di fase transisi dari gigi susu ke gigi bercampur susu-permanen. Di usia ini anak biasanya menyikat gigi sendiri (tidak didampingi) dan mengonsumsi makanan/jajanan yang tinggi risiko karies di sekolah, sehingga mereka risiko kariesnya tinggi. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus untuk anak usia ini terutama mengenai kebersihan mulut dan konsumsi makanannya.

Seperti sudah disebutkan di atas, penilaian risiko karies yang bersifat individual ini dapat menentukan tindakan pencegahan yang juga spesifik untuk tiap individu.

Apa saja tindakan pencegahan karies yang dapat dilakukan?

  1. Edukasi
  2. Profilaksis
  3. Aplikasi fluoride topikal
  4. Dental sealants

Edukasi

Tentunya dokter gigi akan memberikan penjelasan dan edukasi kepada pasien atau orang tua pasien mengenai diagnosis yang terjadi pada pasien, kemungkinan penyebabnya, tindakan yang dapat dilakukan beserta alternatifnya, dan anjuran/instruksi yang perlu pasien lakukan di rumah. Anjuran atau instruksi ini diberikan karena perawatan di klinik gigi harus paralel dengan “perawatan” di rumah untuk mendapatkan hasil yang optimal. Berikut merupakan contoh anjuran yang diberikan oleh dokter gigi.

Parental guide untuk menurunkan risiko karies pada anak:

  1. Kontrol rutin ke dokter gigi
  2. Orang tua dan anggota keluarga lain juga kontrol/perawatan ke dokter gigi
  3. Sikat gigi dengan pasta gigi berfluoride minimal 2 kali sehari, dampingi anak hingga usia 7 tahun walaupun sudah bisa menyikat gigi sendiri dan pastikan benar-benar bersih.
  4. Cemilan sehat
  5. Hindari minuman soda
  6. Kurangi jus
  7. Hindari penggunaan botol susu saat tidur
  8. Isi botol atau sippy cups hanya dengan air putih, perbanyak minum air putih
  9. Hindari junk food dan makanan manis
  10. PENTING: Benda terakhir yang menyentuh gigi anak sebelum tidur adalah sikat gigi.

Oral Profilaksis (pembersihan rongga mulut)

Interval dan frekuensi tindakan pencegahan juga ditentukan berdasarkan risiko kerentanan individu terhadap karies dan penyakit gusi/periodontal.Salah satunya tindakan profilaksis. Oral Profilaksis adalah prosedur pembersihan rongga mulut secara menyeluruh sehingga bersih dari plak, noda/stain, dan karang gigi yang merupakan penyebab utama karies dan penyakit periodontal.

Profilaksis dilakukan tiap kunjungan ke dokter gigi. Setelah pasien ditanya mengenai keluhan dan sebagainya, dokter gigi akan mempersilakan pasien duduk di kursi dental lalu melakukan oral profilaksis. Profilaksis juga bisa membantu dokter gigi dalam pemeriksaan klinis terutama pada pasien anak. Saat gigi dan mulut bersih maka akan lebih mudah bagi dokter gigi untuk memeriksa kondisi gigi dan jaringan mulut dengan detail. Setelah pemeriksaan dan profilaksis, dokter gigi akan melanjutkan tindakan sesuai kebutuhan pasien, misalnya tindakan pencegahan tambahan (seperti aplikasi fluoride, sealant) atau penanganan penyakit (seperti tambal gigi dan lain-lain).

Aplikasi fluoride topikal

Pasti Parents udah sering dengar mengenai fluoride, ya. Fluoride merupakan bahan aktif yang penting untuk mencegah gigi berlubang dan biasanya ada di pasta gigi. Nah, selain di pasta gigi, fluoride juga dapat diberikan secara topikal pada permukaan gigi sebagai asupan tambahan sehingga efeknya semakin kuat untuk mencegah karies.

Aplikasi fluoride topikal merupakan metode pencegahan yang biayanya terjangkau dan penting untuk memperkuat gigi dan mencegah gigi berlubang.

Aplikasi fluoride oleh dokter gigi (Rekomendasi ADA-American Dental Association):

  1. 2.26% varnish fluoride

Varnish fluoride adalah semacam pelapis yang dioles pada permukaan gigi untuk mencegah atau menyetop karies. Lapisan varnish akan kering dengan cepat dan tidak akan ada fluoride yang tertelan. ADA merekomendasikan anak dengan risiko karies tinggi mendapatkan aplikasi fluoride varnish topikal pada seluruh giginya setiap 3 bulan sekali secara rutin. Untuk anak dengan risiko karies sedang, dianjurkan tiap 6 bulan sekali. Setelah aplikasi fluoride varnish, orang tua atau pengasuh harus diingatkan untuk tidak menyikat gigi anak dan hanya makan makanan lembut dalam satu hari penuh (24 jam) untuk memaksimalkan efek perawatan.

Fluoride varnish being applied

Sumber: http://whataresealants.com/fluoride.aspx

  • 1.23% gel fluoride

Gel fluoride yang mengandung 1.23% acidulated phosphate fluoride akan diaplikasikan ke gigi dengan bantuan tray yang sesuai ukuran rahang pasien, ditahan di dalam mulut selama 4 menit lalu dibuang kelebihan gelnya. Bentuk gel ini disarankan untuk anak di atas usia 6 tahun yang sudah bisa meludah, supaya tidak ada fluoride yang tertelan.


Sumber: https://www.toothtown.in/oral-hygiene-maintenance/

Dental sealants

Dental sealants dikenal juga dengan pit and fissure sealants adalah selapis tipis bahan kedokteran gigi yang diaplikasikan pada permukaan kunyah gigi geraham untuk mencegah karies. Gigi geraham memiliki banyak lekukan (pit dan fissure) pada permukaan kunyahnya. Kedalaman pit dan fissure tersebut berbeda pada tiap gigi/tiap orang. Karena dalamnya parit pit dan fissure tersebut, sulit untuk membersihkan plak yang menempel di sana dengan sikat gigi. Aplikasi dental sealants bertujuan untuk menutup (‘seal’) pit dan fissure sehingga sisa makanan dan plak lebih mudah dibersihkan.

Sumber: https://dentalworks.com/dental-sealants

dental-sealant

Sumber: https://preventivedental.com/fissure-sealants/

American Academy of Pediatric Dentistry merekomendasikan aplikasi sealant pada gigi molar (geraham) anak dan dewasa untuk mencegah atau mengontrol karies. Aplikasi sealant dilakukan pada pasien dengan:

  • gigi geraham yang sedang tumbuh maupun sudah tumbuh sempurna
  • gigi geraham yang belum ada karies
  • gigi geraham yang sudah ada white spot namun belum terbentuk lubang

Sealant hanya efektif mencegah karies jika melekat sempurna pada permukaan gigi sehingga diperlukan: 1. Pembersihan yang detail sebelum aplikasi sealant

2. Kontrol rutin untuk mengecek apakah sealant masih utuh pada permukaan gigi. Jika sealant bocor, sisa makanan dan plak dapat masuk kembali sehingga karies dapat terbentuk. Oleh karena itu penting untuk kontrol ke dokter gigi dan dokter akan menentukan apakah sealant perlu diperbarui.

Nah, semoga beberapa pembahasan di atas tentang tindakan pencegahan gigi bisa bermanfaat yaa. Tenang saja semua tindakan yang telah dijelaskan di atas dapat dilakukan di seluruh cabang klinik MHDC dan Medikids Clinic by MHDC. Lalu untuk Medikids Clinic by MHDC Bekasi terdapat berbagai promo perawatan pencegahan loh, segera hubungi admin kami untuk melakukan reservasi ya.

Silahkan bagikan info perawatan pencegahan gigi berlubang ini bila dirasa bermanfaat ya.

Artikel ditulis oleh drg. Nadia Fadila Irfani dan drg. Laila Novpriati

REFERENSI:

Council on Clinical Affairs. Periodicity of examination, preventive dental services, anticipatory guidance/counseling, and oral treatment for infants, children, and adolescents. American Academy of Pediatric Dentistry. Reference Manual. 2018;40(6).

 Ramos-Gomez, et.al. Pediatric dental care: Prevention and management protocols based on caries risk assessment. J Calif Dent Assoc. 2010 October;38(10):746-761.

Weyant, et al. Topical fluoride for caries prevention: Executive summary of the updated clinical recommendations and supporting systematic review. Journal of American Dental Association. 2013;144(11):1279-1291.

Cvikl, Moritz, Bekes. Pit and fissure sealants-a comprehensive review. Dentistry Journal. 2018;6(18):1-8.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *