Ditinjau oleh drg. Rizky Aditiya Irwandi, M.Sc, Ph. D (MHDC Clinic Kalibata City)
Gunung Anak Krakatau kembali menjadi perhatian setelah aktivitas erupsi pada Sabtu (5/9/2026) malam. Abu vulkanik yang dihasilkan kemudian terbawa angin dan menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga wilayah lainnya.
Kondisi ini membuat kita perlu lebih waspada, terutama jika tinggal di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik. Sebab, bahaya abu vulkanik tidak hanya berasal dari debu yang terlihat, tetapi juga dari partikel sangat halus yang dapat terhirup dan masuk ke saluran pernapasan.
Apa Itu Abu Vulkanik?
Abu vulkanik merupakan material halus yang dihasilkan dari aktivitas gunung berapi. Partikelnya dapat berukuran sangat kecil sehingga mudah terbawa angin dan menyebar jauh dari lokasi erupsi.
Abu vulkanik dapat mengandung partikel silika kristalin dengan ukuran mulai dari kasar hingga sangat halus. Pada kondisi tertentu, abu juga dapat disertai gas vulkanik yang bersifat iritan. Komposisi dan tingkat bahayanya dapat berbeda pada setiap erupsi.
Karena sifatnya yang dapat mengiritasi, paparan abu vulkanik dapat memengaruhi beberapa bagian tubuh, terutama saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Apa Saja Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan Kita?
Dalam penjelasan IDAI dan Kemenkes RI, paparan abu vulkanik dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan. Beberapa di antaranya adalah:
1. Gangguan saluran pernapasan
Partikel abu yang terhirup dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Gejala yang dapat muncul antara lain batuk, pilek atau bersih, sakit tenggorokan, napas berbunyi, sesak napas, hingga rasa berat di dada.
Pada anak atau pasien yang memiliki asma, alergi saluran pernapasan, bronkitis, atau penyakit paru lainnya, paparan abu vulkanik dapat memperburuk kondisi yang sudah ada.
2. Iritasi mata
Partikel abu vulkanik juga dapat masuk ke mata. Karena bentuk partikelnya dapat memiliki sisi yang tajam, abu berisiko menyebabkan iritasi hingga menggores permukaan kornea.
Keluhannya dapat berupa mata merah, perih, gatal, berair, hingga nyeri. Pada kasus tertentu, bahkan bisa menyebabkan kerusakan pada lapisan kornea.
3. Iritasi kulit
Abu vulkanik yang menempel pada kulit dapat menyebabkan kulit menjadi gatal, kemerahan, dan iritasi. Kondisi ini juga dapat memperburuk penyakit kulit yang sudah dimiliki sebelumnya.
4. Kontaminasi air dan makanan
Abu vulkanik dapat mencemari sumber air terbuka, tempat penampungan air, maupun makanan yang tidak terlindungi. Karena itu, orang tua perlu memastikan air dan makanan yang dikonsumsi anak tetap aman.
5. Risiko kecelakaan
Abu vulkanik yang menutupi jalan dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan menjadi licin. Kondisi ini meningkatkan risiko kecelakaan, terutama bagi pengguna kendaraan roda dua.
Siapa Saja Kelompok yang Rentan terhadap Risiko Abu Vulkanik?
Anak menjadi salah satu kelompok paling rentan terkena risiko paparan abu vulkanik. IDAI menjelaskan bahwa anak bernapas lebih sering, lebih aktif, dan memiliki proporsi ukuran paru terhadap tubuh yang lebih besar dibandingkan orang dewasa. Anak juga lebih sering bernapas melalui mulut, sehingga penyaringan partikel oleh hidung tidak selalu optimal.
Selain mereka, lansia, penderita asma dan penyakit paru, serta orang dengan daya tahan tubuh rendah juga perlu menjadi kelompok yang mendapat perhatian lebih. Sebab, paparan abu vulkanik dapat memicu atau memperburuk gangguan pernapasan pada kelompok tersebut.
Cara Melindungi Diri dan Keluarga dari Risiko Paparan Abu Vulkanik
Lantas, apa yang dapat kita lakukan ketika wilayah tempat tinggal terdampak abu vulkanik? Berikut rekomendasi Kemenkes RI dan IDAI:
1. Sebisa mungkin tetap berada di dalam rumah
Jika wilayah tempat tinggalmu terdampak sebaran abu, batasi aktivitas di luar ruangan. Tutup pintu, jendela, dan celah yang memungkinkan abu masuk ke dalam rumah.
IDAI bahkan menyarankan agar aktivitas bermain anak di luar rumah ditunda selama kondisi belum aman.
2. Bersihkan abu dengan cara yang aman
Jangan menyapu abu vulkanik dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan dan meningkatkan risiko terhirup.
Kemenkes menyarankan abu dibersihkan dengan dibasahi secukupnya terlebih dahulu. Anak sebaiknya dijauhkan dari area ketika proses pembersihan dilakukan.

3. Gunakan masker
Jiak memang harus berada di luar ruangan, gunakan masker yang memberikan perlindungan terhadap partikel, seperti N95 atu KN95. Masker harus menutup hidung, mulut, dan dagu dengan baik serta diganti apabila sudah basah, kotor, atau rusak. Jika masker tersebut belum tersedia, masker medis dapat digunakan sebagai perlindungan sementara.
Namun, jangan memakaikan masker kepada bayi dan balita. Oleh karena itu, sebaiknya tetap kondisikan agar mereka tetap berada di dalam ruangan tertutup dan jauh dari paparan abu.
4. Lindungi mata dan kulit
Saat harus berada di luar ruangan, sebaiknya menggunakan kacamata pelindung atau goggles untuk mengurangi risiko abu masuk ke mata.
Jika mata terkena abu, jangan menguceknya. Bilas menggunakan air bersih mengalir atau cairan pembilas steril. Penggunaan lensa kontak juga sebaiknya dihindari selama terjadi hujan abu.
Untuk melindungi kulit, gunakan baju lengan panjang, celana panjang, dan alas kaki tertutup. Setelah kembali ke dalam rumah, mandi atau bersihkan bagian tubuh yang terkena abu dan ganti pakaian.
5. Lindungi air dan makanan
Tutup rapat tandon, sumur, serta wadah penyimpanan air agar tidak terkena abu. Makanan dan minuman juga perlu disimpan dalam wadah tertutup.
Sebelum dikonsumsi, cuci bahan makanan segar menggunakan air bersih yang mengalir dan pastikan air yang digunakan untuk minum maupun memasak aman.
6. Hindari kendaraan roda dua
Jika tidak mendesak, hindari membawa anak bepergian menggunakan sepeda motor atau kendaraan terbuka selama sebaran abu masih terjadi.
Selain meningkatkan paparan abu, jarak pandang yang berkurang dan jalan yang licin juga dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Jika harus berkendara, kurangi kecepatan, nyalakan lampu, dan jaga jarak aman.
7. Tetap tenang dan komunikasikan kondisi kepada kelompok rentan
Peristiwa erupsi tentunya bisa membuat siapa saja merasa takut. Namun, kita sebaiknya menjelaskan kondisi dengan bahasa yang sederhana dan menenangkan khususnya pada anak serta lansia.
Batasi mereka dari paparan video atau konten media sosial yang menampilkan erupsi secara berlebihan atau menakutkan.
Kenali Tanda Bahaya setelah Terpapar Abu Vulkanik
Segera cari pertolongan medis di puskesmas, klinik umum terdekat, atau rumah sakit jika kamu dan keluarga mengalami kondisi berikut:
- Batuk yang terus-menerus
- Sesak napas atau kesulitan bernapas
- Nyeri dada
- Bibir atau ujung jari tampak kebiruan
- Kesulitan berbicara karena sesak
- Mata merah atau nyeri yang tidak membaik setelah dibilas
- Kejang
- Penurunan kesadaran
- Lemas
- Keluhan yang semakin berat
Lindungi Keluarga dari Bahaya Abu Vulkanik
Sebaran abu vulkanik dapat berubah mengikuti arah angin dan kondisi atmosfer. Karena itu, kita perlu terus mengikuti informasi resmi dari PVMBG, BMKG, BNPB, BPBD, dan pemerintah daerah setempat.
Yang terpenting, jangan menunggu sampai diri sendiri dan keluarga mengalami keluhan berat untuk melakukan perlindungan. Batasi aktivitas di luar ruangan, jaga kualitas udara di dalam rumah, lindungi saluran pernapasan, mata, dan kulit, serta pastikan kebutuhan obat rutin tetap tersedia.
Jika ada anggota keluarga mulai mengalami keluhan setelah terpapar abu vulkanik atau gejalanya semakin berat, segera konsultasikan ke klinik dokter umum terdekat agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang sesuai.
Sumber:
- Liputan6. Infografis: Tips Hadapi Abu Vulkanik Anak Krakatau.
https://www.liputan6.com/news/read/8286149/infografis-tips-hadapi-abu-vulkanik - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2026. Surat Edaran Nomor KL.01.02/A/17765/2026 tentang Kesiapsiagaan dan Perlindungan Kesehatan Masyarakat terhadap Dampak Erupsi dan Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau.
https://labkesmaspangandaran.id/informasi/kemenkes-terbitkan-surat-edaran-kesiapsiagaan-dan-perlindungan-kesehatan-masyarakat-terhadap-erupsi-gunung-anak-krakatau - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Lindungi Anak dari Abu Vulkanik.
https://www.idai.or.id/artikel/seputar-kesehatan-anak/lindungi-anak-dari-abu-vulkanik - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Informasi edukasi terkait perlindungan anak dari abu vulkanik. Instagram.
https://www.instagram.com/p/Dc745SFICZA/?img_index=1
Tag:
klinik dokter umum, klinik dokter umum terdekat, klinik terdekat, gunung anak krakatau





