Mimisan merupakan kondisi di mana seseorang mengalami perdarahan akibat pecahnya pembuluh darah kecil di dalam lapisan mukosa hidung. Kondisi ini cukup sering terjadi dan dapat dialami oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Mimisan dapat timbul secara spontan ataupun dipicu oleh berbagai faktor. Tingkat keparahan mimisan bervariasi, mulai dari ringan yang dapat berhenti dengan sendirinya atau dengan penanganan sederhana di rumah, hingga kasus yang lebih berat dan memerlukan penanganan medis segera apabila tidak tertangani dengan tepat.
Kenapa seseorang bisa mimisan?

Secara umum, mimisan dibagi menjadi dua faktor, yaitu faktor lokal dan faktor sistemik. Faktor lokal merupakan penyebab yang berasal langsung dari rongga hidung, seperti trauma (misalnya akibat mengorek hidung atau benturan), infeksi, kekeringan pada bagian dalam hidung, iritasi akibat penggunaan oksigen, serta adanya benda asing.
Selain itu, kelainan bentuk hidung, paparan zat kimia, penggunaan obat semprot hidung secara berlebihan, peradangan yang berlangsung lama, serta perubahan cuaca atau tekanan udara juga termasuk dalam faktor lokal.
Sementara itu, faktor sistemik berkaitan dengan kondisi tubuh secara keseluruhan. Beberapa di antaranya adalah gangguan pembekuan darah, seperti penggunaan obat pengencer darah (misalnya heparin, warfarin, aspirin, dan clopidogrel), penyakit hati, trombosit rendah, serta hemofilia.
Selain itu, penyakit ginjal, diabetes, dan gangguan pembuluh darah seperti aterosklerosis dapat menyebabkan mimisan.
Mengapa cuaca panas dapat menyebabkan mimisan?
Penyebab mimisan yang paling umum adalah akibat perubahan cuaca. Perubahan cuaca, terutama udara yang panas atau kering, dapat membuat bagian dalam hidung menjadi kering dan mudah terluka, sehingga lebih mudah berdarah.
Ketika lapisan dalam hidung menjadi kering, pembuluh darah kecil di dalamnya menjadi lebih rapuh dan sensitif sehingga apabila terjadi gesekan ringan seperti mengusap hidung, bersin, atau bahkan perubahan suhu yang mendadak dapat memicu terjadinya mimisan.
Pertolongan pertama mimisan
Pertolongan pertama saat mimisan dapat dilakukan dengan menekan kedua sisi hidung (kiri dan kanan) secara bersamaan selama 5–30 menit untuk membantu menghentikan perdarahan.
Selama proses tersebut, sebaiknya dilakukan pengecekan setiap 5–10 menit untuk melihat apakah darah sudah berhenti atau belum.
Penderita dianjurkan dalam posisi duduk tegak dengan kepala sedikit condong ke depan. Posisi ini penting agar darah tidak mengalir ke tenggorokan yang bisa menyebabkan tersedak.
Pencegahan setelah mimisan
Setelah mimisan berhenti, hindari mengorek hidung, menghembuskan napas terlalu kuat, menundukkan kepala terlalu rendah, serta mengangkat beban berat selama beberapa jam.
Penggunaan pelembap udara (humidifier) atau kompres dingin pada batang hidung juga dapat membantu mencegah mimisan berulang.

Kapan mimisan membutuhkan pertolongan medis darurat?
Segera cari pertolongan medis darurat apabila mimisan yang terjadi mengeluarkan darah dalam jumlah yang cukup banyak, berlangsung lebih dari 30 menit meskipun sudah dilakukan pertolongan pertama, atau disertai dengan gejala seperti merasa lemas, pusing, hingga hampir pingsan. Kondisi-kondisi tersebut dapat menandakan bahwa mimisan memerlukan penanganan medis lebih lanjut untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Kamu bisa datang ke klinik kesehatan umum terdekat seperti Medikids atau MHDC Clinic untuk berkonsultasi, mengetahui penyebab mimisan, dan mendapatkan penanganan yang sesuai. Selain itu, kamu pun bisa memanfaatkan layanan vaksinasi seperti pemberian immune booster untuk membantu jaga daya tahan tubuh serta mencegah gangguan kesehatan lainnya.
Medikids dan MHDC Clinic juga menyediakan layanan dokter gigi spesialis lengkap. Mulai dari ortodonti, konservasi gigi, dokter gigi anak, hingga bedah mulut tersedia di satu klinik. Didukung dengan teknologi modern berstandar Internasional, sehingga diagnosisnya lebih akurat dan presisi.
Artikel Terkait:
Referensi:
- Mayo Clinic Staff. (2024). Nosebleeds: First aid. Mayo Clinic. Retrieved from https://www.mayoclinic.org/first-aid/first-aid-nosebleeds/basics/art-20056683
- Tabassom, A., & Dahlstrom, J. J. (2022). Epistaxis. In StatPearls. StatPearls Publishing. Retrieved from https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK435997/
- Teuku Husni, T. R., & Zikral Hadi. (2020). Pendekatan diagnosis dan tatalaksana epistaksis. Jurnal Kedokteran Nanggroe Medika, 3(1). e-ISSN: 2615-3874





