Intermittent fasting (IF) jadi salah satu tren diet yang cukup populer. Sebab, cara ini dirasa lebih efektif dalam menurunkan berat badan dan menjaga kadar gula darah.
Puasa intermittent adalah metode pengaturan jam makan dengan siklus puasa atau jeda waktu untuk mengonsumsi makanan. Ada beragam pola intermittent yang bisa dilakukan, namun yang paling umum adalah 16 jam berpuasa dan 8 jam makan.
Hal penting yang harus dicatat adalah tidak semua orang cocok dengan jenis diet satu ini. Terutama mereka yang mengalami sindrom dispepsia atau sakit maag.
Apa itu Sindrom Dispepsia?

Sindrom dispesia (maag) adalah gangguan asam lambung yang ditandai dengan adanya rasa tidak nyaman atau nyeri pada perut bagian atas, rasa begah atau penuh setelah makan, dan rasa kenyang lebih awal.
Sindrom ini bukan merupakan sebuah diagnosis, melainkan kumpulan gejala gangguan pada saluran pencernaan atas. Penyebab dari kumpulan gejala ini beragam dan bisa diklasifikasikan ke dalam 2 tipe, yaitu dispepsia organik dan dispepsia fungsional.
Dispepsia organik disebabkan oleh suatu penyakit yang mendasari dan dapat dilihat dalam pemeriksaan penunjang. Contohnya pada pasien GERD, ulkus peptikum, kanker, atau riwayat penggunaan obat analgesik. Sebaliknya, dispepsia fungsional biasanya tidak disertai dengan kelainan melalui endoskopi.
Faktor Risiko Penyakit Sindrom Dispepsia
Kondisi-kondisi berikut berpotensi meningkatkan kemuningkinan seseorang mengalami dispepsia atau maag:
- Obesitas
- Konsumsi makanan pedas dan berlemak
- Merokok
- Konsumsi kopi
- Stress
- Pola makan tidak teratur
- Penggunaan obat-obatan anti nyeri
Kondisi Lambung Pada saat Intermittent Fasting

Beberapa penelitian menunjukkan asam lambung diproduksi lebih tinggi pada siang hari pada indvidu yang sedang berpuasa.
Hal inilah yang menjadi penyebab meningkatnya keluhan lambung pada saat puasa intermittent fasting, terutama pada populasi wanita dan lansia.
Perubahan pola makan dan restriksi diet ini diduga dapat mempengaruhi gejala pada pasien dengan penyakit asam lambung.
Baca juga: Hati-hati, GERD Bisa Jadi Awal Kerusakan Gigimu
Tips Intermittent Fasting yang Aman untuk Sakit Maag
Kalau kamu ingin tetap bisa menjalani intermittent fasting tanpa khawatir dengan keluhan rasa tidak nyaman di lambung, lakukan cara ini ya:
Hindari porsi besar saat buka jendela makan
Porsi makan yang terlalu banyak dan makan terlalu cepat dapat memicu munculnya gejala asam lambung.
Hal ini disebabkan oleh proses pengosongan lambung yang menjadi lambat akibat terlalu penuh. Makan dalam porsi kecil terbukti dapat mencegah munculnya keluhan asam lambung.
Hindari makanan pemicu
Saat jam makan, pastikan kamu mengeliminisasi makanan tinggi lemak, ultra processed food, kopi, makanan pedas dan bersantan. Sebab, semua ini dapat meningkatkan sekresi asam lambung dan memicu gejala maag.

Berhenti merokok
Merokok meningkatkan risiko terjadinya gejala asam lambung hingga 2 kali lipat. Sebab, produksi radikal bebas dan peningkatan sekresi asam lambung bisa juga dipicu oleh nikotin.
Batasi penggunaan obat nyeri
Obat-obatan anti nyeri golongan NSAID (Non-steroidal Anti Inflammatory Drugs), contohnya Asam mefenamat, meloxicam dan Natrium diklofenak memiliki efek samping nyeri pada ulu hati.
Penggunaan obat-obatan ini harus dibatasi pada pasien dengan penyakit asam lambung.
Konsumsi obat PPI
Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi obat golongan PPI seperti omeprazole sebanyak 2 kali sehari dapat mengurangi gejala asam lambung.
Konsultasikan Keluhan Sakit Maag ke Dokter
Pada dasarnya, pasien dengan sindrom dispepsia dengan tingkat ringan aman melakukan intermittent fasting.
Bahkan, penelitian menunjukkan bahwa berpuasa memiliki efek yang signifikan pada kesehatan karena terbukti dapat menurunkan stress oksidatif dalam tubuh.
Namun, pasien perlu memperhatikan beberapa hal di atas yang dapat memicu gejala asam lambung selama berpuasa.

Datang ke klinik kesehatan terdekat dan konsultasi dengan dokter terkait keluhan yang kamu rasakan. Dengan begitu, kamu bisa menjalankan diet dengan aman dan nyaman tanpa khawatir dengan masalah asam lambung.
Ditulis oleh: dr. Fryzka Amalia
Referensi:
- Chandra, E., Ndraha, S., & Wibawa, I. D. N. (2013). Effect of omeprazole to dyspeptic symptom on Ramadan fasting patient based on dyspepsia symptoms severity index scores. The Indonesian Journal of Gastroenterology, Hepatology, and Digestive Endoscopy, 14(2), 69-72.
- Nandurkar, S., Talley, N. J., Xia, H., Mitchell, H., Hazel, S., & Jones, M. (1998). Dyspepsia in the community is linked to smoking and aspirin use but not to Helicobacter pylori infection. Archives of Internal Medicine, 158(13), 1427-1433.
- Duboc, H., Latrache, S., Nebunu, N., & Coffin, B. (2020). The role of diet in functional dyspepsia management. Frontiers in psychiatry, 11, 23.
- Rahimi, H., Fayyazi, E., Emami, M. H., Fahim, A., Tavakol, N., Mahdavi, S. B., … & Mirmosayyeb, O. (2017). Effects of ramadan fasting on dyspepsia symptoms. Govaresh, 22(3), 188-194.
- Gastroenterology Consultants of San Antonio. (2022). Abdominal Pain: What’s Normal and When to See a Doctor. Retrieved from https://www.gastroconsa.com/abdominal-pain-whats-normal-and-when-to-see-a-doctor/
- Purnamasari, L. (2017). Faktor Risiko, Klasifikasi dan Terapi Sindrom Dispepsia. Cermin Dunia Kedokteran, 44(12), 399134.
- RSUD Buleleng kab. (2025). Bahaya Merokok: Kandungan, Dampak, dan Cara Berhenti Merokok. Retrieved from https://rsud.bulelengkab.go.id/informasi/detail/artikel/38_bahaya-merokok-kandungan-dampak-dan-cara-berhenti-merokok





