Sariawan Saat Puasa, Harus Apa?

Bagikan :

sariawan saat puasa

Table of Contents

Sariawan saat puasa sering menjadi keluhan yang muncul ketika tubuh mengalami kurang asupan cairan selama Ramadan. Banyak yang bertanya-tanya apakah sariawan saat puasa disebabkan kurang minum, kurang vitamin atau iritasi lainnya.

Sariawan atau Recurrent Aphthous Stomatitis (RAS) adalah luka kecil pada mukosa mulut yang terasa nyeri dan dapat mengganggu makan, minum, serta berbicara. Selama bulan puasa, keluhan sariawan sering meningkat karena perubahan pola makan dan hidrasi tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kondisi mulut sangat dipengaruhi oleh status cairan, nutrisi, serta sistem imun.

Penyebab Sariawan Saat Puasa

Dehidrasi dan Mulut Kering 

Penurunan asupan cairan saat puasa menyebabkan produksi air liur menurun. Air liur berfungsi melindungi mukosa mulut dari iritasi dan infeksi. Penurunan produksi air liur meningkatkan risiko trauma dan peradangan mukosa, sehingga mempermudah terbentuknya sariawan.

mulut kering saat bangun tidur
Kurang minum air saat berpuasa menjadi penyebab mulut terasa kering

Kekurangan Nutrisi (Vitamin dan Mineral)

Selama puasa, pola makan yang tidak seimbang (kurang sayur, buah, dan protein) meningkatkan risiko kekurangan vitamin B12, zat besi dan zinc yang memicu sering munculnya sariawan.

Makanan sumber nutrisi
Makanan sumber nutrisi

Stres dan Perubahan Hormon Kortisol

Puasa dapat menyebabkan perubahan ritme tidur dan aktivitas yang memicu stres. Studi imunologi menunjukkan bahwa stres meningkatkan mediator inflamasi (sitokin) yang berperan dalam terbentuknya  sariawan.

Stres menjadi salah satu faktor sariawan
Stres menjadi salah satu faktor penyebab sariawan

Trauma Mekanis

Menyikat gigi terlalu keras atau mengonsumsi makanan keras saat sahur atau berbuka dapat melukai mukosa mulut. Trauma ringan pada mukosa merupakan faktor pencetus utama sariawan.

lesi mulut
Sariawan berulang pada permukaan bibir bagian dalam

Cara Mengobati Sariawan Saat Puasa

Menjaga Hidrasi Optimal Saat Sahur dan Berbuka

Minum air yang cukup (±8 gelas per hari) terbukti membantu menjaga produksi saliva. Air liur atau saliva berperan penting dalam proses penyembuhan sariawan.

sariawan saat puasa
Cukup cairan saat buka dan sahur

Obat Kumur Antiseptik

Kumur dengan chlorhexidine gluconate 0,12% terbukti dapat mengurangi kolonisasi bakteri, mengurangi durasi ulkus dan mencegah infeksi sekunder. Digunakan malam hari setelah berbuka.

Obat kumur
Obat kumur

Suplemen Vitamin

Pemberian vitamin B kompleks, zat besi, vitamin C dan zinc dapat membantu keutuhan kesehatan mukosa mulut dan mempercepat regenerasi mukosa mulut saat sariawan muncul, sehingga mempercepat proses penyembuhan sariawan.

Baca juga: 5 Vitamin untuk Gigi dan Gusi yang Sehat

Menghindari Faktor Iritan

Penderita sariawan sebaiknya menghindari makanan pedas, asam, gorengan, dan minuman panas  karena meningkatkan risiko sariawan akibat peradangan mukosa.

lidah luka
Makan makanan panas dapat meningkatkan risiko sariawan

Pencegahan Sariawan Saat Puasa

Cara pencegahan sariawan saat puasa antara lain: perbanyak konsumsi buah dan sayur saat sahur dan berbuka, sikat gigi dengan sikat lembut, tidur cukup, kurangi stres, perbanyak minum air putih.

Sariawan saat puasa disebabkan oleh kombinasi dehidrasi, defisiensi nutrisi, stres, dan trauma mukosa. Cara yang efektif untuk mengobati sariawan  meliputi hidrasi yang cukup, penggunaan, antiseptik oral, dan perbaikan nutrisi. Pencegahan dengan menjaga pola makan dan kebersihan mulut sangat dianjurkan untuk mengurangi kejadian sariawan selama puasa. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai sariawan dan cara mengobatinya, yuk segera konsultasikan dengan dokter gigi untuk mendapatkan perawatan yang tepat dan sesuai dengan kebutuhan Anda. Anda dapat mengunjungi klinik MHDC dan Medikids terdekat!

klinik gigi terdekat

ditulis oleh: drg. Risa Febriani – Medikids Grand Wisata
ditinjau oleh: drg. Rizky Aditiya Irwandi, MSc., Ph.D

Referensi:

Scully, C., & Porter, S. (2008). Oral mucosal disease: Recurrent aphthous stomatitis. British Journal of Oral and Maxillofacial Surgery, 46(3), 198–206.
Ship, J. A., et al. (2002). Xerostomia and the geriatric patient. Journal of the American Geriatrics Society, 50(3), 535–543.
Nolan, A., et al. (1991). Recurrent aphthous ulceration and vitamin B12 deficiency. Journal of Oral Pathology & Medicine, 20(7), 389–391.

Instagram MHDC GROUP