Masalah gigi bungsu seringkali menjadi hal menakutkan untuk orang dewasa. Kondisi ini biasanya terjadi karena adanya impaksi gigi.

Impaksi gigi adalah keadaan di mana gigi gagal erupsi atau tumbuh sempurna untuk mencapai posisi fungsional dalam rongga mulut. Di Indonesia, kasus impaksi gigi paling sering ditemui pada gigi bungsu atau geraham ketiga rahang bawah. Hasil konsisten yang ditemukan pada berbagai populasi yang berbeda menunjukkan bahwa impaksi gigi erat kaitannya dengan keterbatasan ruangan yang tersedia untuk gigi geraham ketiga yang dapat tumbuh.
Menurut American Association of Oral and Maxillofacial Surgeons (AAOMFS), impaksi gigi ditemui pada pasien, dengan angka kejadian mencapai 0,8-3,6% dari total populasi secara umum. Gigi yang paling sering mengalami impaksi adalah gigi geraham ketiga rahang bawah dan rahang atas, diikuti gigi taring di rahang atas, dan gigi geraham kecil di rahang bawah.
Masalah kesehatan gigi satu ini harus segera diatasi dengan tindakan operasi cabut gigi bungsu atau odontektomi. Sebab, jika dibiarkan bisa menyebabkan berbagai masalah seperti nyeri hebat, infeksi gusi, bahkan kista gigi.
Lalu, apakah ada cara agar gigi bungsu tumbuh normal? Yuk, simak penjelasan di bawah untuk tahu jawabannya.

Apa Penyebab Impaksi Gigi?
Kementerian Kesehatan telah menerbitkan Pedoman Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Impaksi Gigi pada tahun 2022. Di dalamnya disebutkan bahwa faktor yang dapat memengaruhi terjadinya impaksi gigi bungsu dapat dibedakan menjadi dua faktor berikut:
Faktor Lokal
1. Ruangan yang tidak cukup untuk erupsi gigi secara normal
Pertumbuhan dan ukuran rahang dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu asupan nutrisi, produksi hormon pertumbuhan, genetik, serta aktivitas fungsional dari rahang itu sendiri. Kombinasi dari beberapa faktor ini dapat menghasilkan adanya diskrepansi antara ukuran rahang dan ukuran gigi, sehingga gigi molar ketiga yang terakhir erupsi lebih berisiko mengalami impaksi.
2. Trauma atau infeksi pada benih gigi
Proses erupsi gigi meliputi interaksi kompleks antara benih gigi, sel pembentuk tulang serta sel yang meresorpsi tulang. Pada beberapa kasus, impaksi terjadi dikarenakan adanya gangguan baik secara mekanis maupun kimiawi yang mengganggu mekanisme erupsi gigi. Gangguan mekanis seperti cedera saat terjatuh, atau infeksi kronis pada gigi susu pendahulu, dapat mengakibatkan hilangnya panduan pada gigi yang akan tumbuh.
3. Kondisi di sekitar benih gigi yang dapat menghambat
Kondisi atau struktur dari jaringan sekitar juga dapat memengaruhi proses erupsi, seperti gingiva yang tebal, keberadaan kista, atau pada kasus yang lebih ekstrem, keberadaan neoplasma atau tumor yang dapat mendorong benih gigi menjauh dari posisi fungsional.
Faktor Sistemik
1. Faktor pre-natal
Faktor pre-natal atau keturunan memegang peranan penting dalam menentukan kejadian impaksi dikarenakan genetik berpengaruh terhadap ukuran tulang rahang, ukuran gigi maupun letak benih-benih gigi. Meskipun demikian, penelitian menunjukkan belum ada gen tertentu yang bisa dijadikan penanda apakah seseorang akan mengalami impaksi atau tidak
2. Faktor Post-Natal
Setelah kelahiran, asupan nutrisi serta sekresi hormon oleh kelenjar endokrin akan saling berhubungan dan berperan penting dalam proses pertumbuhan tubuh. Gangguan berupa defisiensi nutrisi dalam jumlah besar akan mengganggu proses pertumbuhan. Misalm defisiensi protein dapat menyebabkan keterlambatan perkembangan mandibula dan keterlambatan erupsi. Sementara vitamin D berhubungan erat dengan hormon tiroid dan paratiroid yang mengatur penyediaan dan penyerapan kalsium dan fosfor dalam tulang, termasuk tulang rahang.
Tips Mencegah Impaksi Gigi
Menurut Teori 5 Levels of Prevention oleh Leavel dan Clark, pencegahan tidak terbatas pada upaya untuk mencegah sesuatu agar tidak terjadi, namun juga bisa dilakukan dengan mengidentifikasi dini kejadian tersebut dan melakukan penanganan dini, guna menghindari dampak buruk lebih lanjut. Impaksi gigi bungsu, tergantung pada posisi giginya, dihubungkan erat dengan berbagai kondisi patologis, mulai dari yang sederhana seperti radang gusi, hingga yang kompleks seperti penyakit pulpa-periapikal pada gigi molar lain, atau bahkan abses yang menjalar ke tulang.
Seperti yang sudah dijelaskan, impaksi berhubungan erat dengan proses pertumbuhan gigi yang merupakan proses kompleks dan memakan waktu lama. Lebih dari itu, tidak semua tahapan proses ini dapat kita amati secara langsung dengan visual, sehingga kunjungan rutin ke dokter gigi menjadi tahapan penting yang dapat membantu.
Klinik Medikids dan MHDC sudah dilengkapi dengan fasilitas rontgen panoramik yang dapat mengevaluasi posisi benih gigi terhadap tulang rahang, sehingga pasien dapat mengetahui dan mengevaluasi kondisi benih gigi, bahkan sebelum ada keluhan. Dengan adanya pemeriksaan penunjang rontgen, dokter gigi dapat memberikan edukasi yang lebih lengkap pada pasien mengenai kondisi gigi bungsu dan jaringan sekitarnya, serta tindakan yang perlu dilakukan.
Oleh karena itu, jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan rutin dan konsultasikan keluhan gigi mulutmu pada dokter kami di klinik Medikids atau MHDC terdekat.

Ditulis oleh: drg. Margaretha Claresta
Ditinjau oleh: drg. Rizky Aditiya Irwandi, MSc., Ph.D
Referensi :
- Kemenkes RI. 2022. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran. Tatalaksana Impaksi Gigi. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. HK.01.07/Menkes/777/2022.
- Al-Gunaid TH, Bukhari AK, El Khateeb SM, Yamaki M. Relationship of Mandibular Ramus Dimensions to Lower Third Molar Impaction. Eur J Dent. 2019 May;13(2):213-221. doi: 10.1055/s-0039-1693922. Epub 2019 Sep 8. PMID: 31494918; PMCID: PMC6777163.
- Verma, Sneh Lata; Tikku, Tripti; Khanna, Rohit; Srivastava, Kamna; Maurya, Rana Pratap; Rai, Priyanka. Correlation of mandibular third molar orientation and available retromolar space with arch length discrepancy in subjects with different growth pattern. National Journal of Maxillofacial Surgery 15(1):p 106-115, Jan–Apr 2024. | DOI: 10.4103/njms.njms_63_22
- Papadopoulos S, Ziakas I, Panteris E, Chatzigianni A. The genetic basis of tooth impaction: a systematic review. Clin Oral Investig. 2025 Sep 22;29(10):469. doi: 10.1007/s00784-025-06520-0. PMID: 40982116; PMCID: PMC12454535.
- Pandve, Harshal Tukaram. Changing concept of disease prevention: From primordial to quaternary. Archives of Medicine and Health Sciences 2(2):p 254-256, Jul–Dec 2014. | DOI: 10.4103/2321-4848.144366





