Hipertensi adalah gangguan di mana tekanan darah mengalami peningkatan yang abnormal secara persisten dan berkelanjutan. Hal ini ditandai dengan nilai tekanan sistolik ≥ 130 mmHg atau diastolik ≥ 80 mmHg. Seseorang dapat dikatakan hipertensi bila setelah dua kali pengukuran masing masing dalam dua waktu yang berbeda tekanan darahnya lebih tinggi daripada normal.
Hipertensi juga sering disebut sebagai silent killer atau pembunuh diam-diam karena pada sebagian besar kasus tidak menimbulkan gejala atau keluhan yang jelas. Akibatnya, banyak penderita tidak menyadari bahwa mereka mengalami hipertensi hingga tekanan darah diperiksa atau setelah terjadi komplikasi pada organ tubuh. Meskipun penderita sering merasa sehat dan tetap dapat menjalani aktivitas sehari-hari dengan normal, tekanan darah yang tinggi secara terus-menerus dapat merusak pembuluh darah dan organ penting, seperti jantung, otak, serta ginjal. Kondisi ini menjadikan hipertensi sebagai penyakit yang berbahaya karena dapat meningkatkan risiko stroke, penyakit jantung, gagal ginjal, dan bahkan kematian.
Baca Juga:Â Jangan Sepelekan Sakit Gigi, Bisa Jadi Serangan Jantung dan Stroke!

Tanda dan Gejala Hipertensi
Pada beberapa kasus, hipertensi dapat ditandai dengan kelelahan, pusing, jantung berdebar, angina (nyeri dada atau rasa tidak nyaman yang biasanya disebabkan oleh kurangnya aliran darah ke jantung), dyspnea (sesak napas), sakit kepala, dan hidung berdarah (mimisan).Â
Baca Juga: Waspada! Inilah Ciri-Ciri Penyakit Jantung Lemah yang Sering Diabaikan
Faktor Penyebab Hipertensi
Hipertensi biasanya dibagi menjadi dua kategori, yaitu hipertensi primer dan sekunder. Hipertensi primer merupakan kondisi dimana penyebab pastinya hipertensi tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang berkontribusi. Adapun beberapa faktor risiko yang telah diidentifikasi, diantaranya adalah obesitas, stres, merokok, konsumsi alkohol, asupan garam yang tinggi, dan usia. Sedangkan hipertensi sekunder merupakan kondisi dimana peningkatan tekanan darah terjadi akibat penyebab sekunder yang dapat diidentifikasi, seperti penyakit ginjal atau endokrin.

Cara Mengatasi Hipertensi
Hipertensi pada umumnya ditangani dengan pemberian obat-obatan antihipertensi sesuai anjuran dokter. Pengobatan awal pada hipertensi sangat penting karena dapat membantu mengontrol tekanan darah serta mencegah terjadinya komplikasi pada berbagai organ tubuh, seperti jantung, ginjal, dan otak. Selain dengan pemberian obat obatan, penerapan pola hidup sehat juga memiliki peran penting dalam membantu menurunkan dan menjaga tekanan darah tetap terkendali. Beberapa upaya yang dapat dilakukan antara lain sebagai berikut:
- Meningkatkan aktivitas fisik
- Menurunkan berat badan
- Mengonsumsi makanan dengan kadar garam rendah (<2.3 gr Natrium), perbanyak asupan kalium (sayur, buah), dan hindari alkohol.
- Mengurangi konsumsi kafein
- Berhenti merokok
- Gunakan teknik untuk meredakan stress
Baca Juga:Â Ikut-ikutan Tren, Hati-Hati Bahaya Minuman Manis Berlebihan!

Rutin Lakukan Mini Medical Check-Up
Hal lain yang tak boleh kamu abaikan juga adalah melakukan pengecekan kesehatan secara rutin. Kamu bisa melakukan mini medical check-up atau pemeriksaan kesehatan dasar secara singkat. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran kondisi tubuh secara umum. Pemeriksaan yang dilakukan berfokus untuk mendeteksi kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah.
Tak perlu bingung mencari klinik untuk melakukan medical check-up. Kamu bisa kunjungi Medikids untuk MHDC Dental Clinic untuk melakukan pemeriksaan tersebut. Selain dikenal sebagia klinik gigi terdekat, Medikids dan MHDC Clinic juga memiliki layanan kedokteran umum dan vaksinasi untuk keluarga. Klinik gigi spesialis dan vaksinasi ini pun sudah bekerja sama dengan rekanan asuransi sehingga bisa memudahkanmu dalam melakukan pemeriksaan kesehatan.
Ditulis oleh Awardee Wakaf Produktif PAII
Ditinjau oleh drg. Rizky Aditiya Irwandi, M.Sc. Ph.D – MHDC Clinic Wisma 46
Referensi
- Lewis, Dirksen, Heitkemper, Bucher & Camera (2014). Medical-Surgical Nursing, Assessment & Management of Clinical Problems, 8th Ed. USA: ElsevierÂ
- Sudirman, A. N., & Monoarfa, S. C. (2024). Efektivitas metode edukasi terstruktur terhadap perubahan perilaku penderita hipertensi di Desa Bulotalangi. Healthy Tadulako Journal (Jurnal Kesehatan Tadulako), 10(4), 682–690. P-ISSN 2407-8441, E-ISSN 2502-0749.
- Unger, T., et al (2020). 2020 International Society of Hypertension Global Hypertension Practice Guidelines. Hypertension, 75(6), 1334–1357. https://doi.org/10.1161/HYPERTENSIONAHA.120.15026Â
- WHO. (2025). Hypertension. World Health Organization. Retrieved from https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertensionÂ
- Whelton, P. K., & Carey, R. M. (2017). The 2017 Clinical Practice Guideline for High Blood Pressure. JAMA, 318(21), 2073–2074. https://doi.org/10.1001/jama.2017.18209Â





