Vaksin DPT Minim Demam, Benarkah Efektif untuk Si Kecil?

Bagikan :

cover vaksin dpt minim demam

Table of Contents

Vaksinasi DPT jadi salah satu imunisasi dasar yang wajib diberikan sejak bayi. Perlindungan ini direkomendasikan oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)  dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Sayangnya, kekhawatiran orang tua seringkali membuat si kecil tertunda mendapatkan vaksin ini. Alasannya adalah karena kecemasan yang kerap muncul adalah efek demam, rewel, atau nyeri pada bekas suntikan setelah melakukan vaksin. Namun, di sisi lain beredar anggapan ada pilihan berbayar yang lebih baik yaitu vaksin dpt minim demam. 

Sebenarnya, bagaimana fakta medisnya? Apakah memang ada vaksin yang memang lebih minim demam? Lalu, bagaimana memilih vaksin yang tepat untuk Si Kecil? Yuk, kita cari tahu jawabannya. 

Apa Itu Vaksin DPT?

Vaksin DPT adalah vaksin yang melindungi anak dari tiga penyakit berbahaya, yaitu:

1. Difteri

Penyakit infeksi yang dapat menyebabkan sumbatan jalan napas, kerusakan jantung, hingga kematian.

2. Pertusis (Batuk Rejan)

Penyakit batuk berat yang dapat berlangsung selama berminggu-minggu dan berisiko menyebabkan komplikasi serius pada bayi.

vaksin dpt minim demam - bantu cegah anak dari batuk rejan
Ilustrasi kondisi batuk rejan pada anak

3. Tetanus

Penyakit yang disebabkan oleh racun bakteri dan dapat menimbulkan kejang otot berat serta gangguan pernapasan.

Baca Juga: Pentingnya Imunisasi Anak, Hal yang Tidak Boleh Dilewatkan

Mengenal Jenis-Jenis Vaksin DPT

Secara umum, terdapat dua jenis utama vaksin yang mengandung komponen pertusis:

DPT Whole Cell (DTwP)

Vaksin ini menggunakan seluruh sel bakteri pertusis yang telah dimatikan. Beberapa kelebihannya adalah sebagia berikut: 

  • Efektif membentuk perlindungan terhadap penyakit.
  • Digunakan secara luas dalam program imunisasi nasional.

Namun, vaksin ini lebih sering menimbulkan reaksi seperti:

  • Demam.
  • Nyeri pada lokasi suntikan.
  • Bengkak ringan.
  • Rewel setelah imunisasi.
vaksin dpt minim demam
Ilustrasi pemberian vaksin DPT pada anak

DPT Acellular (DTaP)

Vaksin ini hanya menggunakan bagian tertentu dari bakteri pertusis yang diperlukan untuk membentuk kekebalan. Beberapa kelebihannya adalah sebagai berikut: 

  • Umumnya menyebabkan demam lebih ringan.
  • Nyeri dan bengkak pasca imunisasi cenderung lebih sedikit.
  • Anak biasanya lebih nyaman setelah imunisasi.

Inilah alasan mengapa vaksin DTaP sering dikenal masyarakat sebagai vaksin DPT minim demam atau DPT minim nyeri.

Baca Juga: Vaksin Hepatitis B untuk Ibu Menyusui, Apakah Boleh?

Mengapa DTaP Dikenal Lebih Minim Demam?

Perbedaan utama terletak pada kandungan komponen pertusisnya. Pada DTwP, seluruh sel bakteri yang telah dimatikan digunakan sebagai antigen sehingga respons imun yang terbentuk biasanya lebih kuat dan lebih sering disertai reaksi seperti demam atau nyeri.cSementara pada DTaP, hanya komponen tertentu dari bakteri yang digunakan sehingga reaksi inflamasi setelah imunisasi cenderung lebih ringan.

Meski demikian, beberapa hal berikut ini perlu Parents ingat: 

  • DTaP tetap dapat menyebabkan demam.
  • Tidak semua anak yang menerima DTwP akan mengalami demam tinggi.
  • Kedua jenis vaksin sama-sama memberikan perlindungan terhadap difteri, pertusis, dan tetanus.

Demam Setelah Imunisasi: Normal atau Berbahaya?

Parents perlu tahu bahwa demam ringan setelah imunisasi merupakan reaksi yang normal.

Vaksin DPT minim demam dan nyaman
Anak mengalami demam setelah melakukan vaksinasi DPT

Demam terjadi karena sistem kekebalan tubuh sedang mengenali komponen vaksin dan membentuk perlindungan terhadap penyakit. Selain demam, anak juga dapat mengalami kondisi berikut:

  • Nyeri atau kemerahan pada lokasi suntikan.
  • Bengkak ringan.
  • Rewel atau lebih sering menangis.
  • Nafsu makan sementara berkurang.
  • Mengantuk lebih banyak dari biasanya.

Sebagian besar keluhan tersebut bersifat ringan dan akan membaik sendiri dalam 1–3 hari. Karena itu, munculnya demam ringan setelah imunisasi bukan berarti vaksin tidak cocok atau berbahaya, melainkan merupakan salah satu tanda bahwa tubuh sedang membentuk respons imun

Apakah Vaksin Berbayar Memiliki Risiko Demam yang Lebih Rendah?

Jawabannya adalah tidak selalu, tetapi pada beberapa jenis vaksin memang terdapat perbedaan angka kejadian demam dan nyeri setelah imunisasi.

Perlu dipahami bahwa vaksin yang digunakan di Indonesia, baik yang tersedia dalam program pemerintah maupun layanan imunisasi mandiri, sama-sama telah melalui proses evaluasi keamanan dan efektivitas yang ketat sebelum digunakan.

vaksin dpt minim demam

Perbedaan yang sering menjadi perhatian orang tua biasanya terdapat pada jenis vaksin DPT tertentu. Beberapa formulasi vaksin menggunakan komponen yang berbeda sehingga dapat memberikan reaksi pasca imunisasi yang berbeda pula.

Namun, bukan berarti vaksin yang menyebabkan demam lebih sering memiliki kualitas yang lebih rendah. Semua vaksin yang direkomendasikan memiliki tujuan yang sama, yaitu memberikan perlindungan terhadap penyakit berbahaya.

Baca Juga: Anak Demam? Temukan Solusi Tepat dengan Pemilihan Obat yang Bijak

Kenapa Reaksi Vaksin Setiap Anak Bisa Berbeda?

Moms mungkin pernah mendengar cerita bahwa seorang anak tidak mengalami demam setelah imunisasi, sementara anak lain mengalami demam hingga dua hari. Hal tersebut sangat mungkin terjadi karena respons tubuh setiap anak berbeda-beda.

Beberapa faktor yang dapat memengaruhi reaksi setelah imunisasi antara lain:

  • Usia anak.
  • Kondisi kesehatan saat imunisasi.
  • Riwayat imunisasi sebelumnya.
  • Respons sistem kekebalan tubuh masing-masing anak.
  • Jenis vaksin yang digunakan.

Karena itu, tidak ada jaminan bahwa vaksin tertentu pasti membuat semua anak tidak demam. Bahkan pada vaksin yang dikenal lebih minim reaksi, sebagian anak tetap dapat mengalami demam ringan atau nyeri di lokasi suntikan.

Apakah Harus Memilih DPT Minim Demam?

Jawabannya adalah tidak selalu. Pemilihan jenis vaksin sebaiknya disesuaikan dengan:

  • Usia anak.
  • Riwayat reaksi imunisasi sebelumnya.
  • Kondisi kesehatan anak.
  • Ketersediaan vaksin.
  • Pertimbangan dokter.

vaksin DPT minim demam

Pada beberapa anak dengan riwayat demam tinggi setelah imunisasi sebelumnya atau kondisi tertentu, dokter mungkin akan mempertimbangkan penggunaan vaksin yang reaktogenisitasnya lebih rendah.

Namun yang paling penting adalah anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal, karena perlindungan terhadap penyakit jauh lebih penting dibandingkan kekhawatiran terhadap demam ringan yang biasanya bersifat sementara.

Baca Juga: Waspada! Kenali Kondisi Anak Tidak Boleh Divaksin

Tips Mengurangi Ketidaknyamanan Setelah Imunisasi

Agar Si Kecil lebih nyaman setelah imunisasi, Parents dapat melakukan beberapa hal berikut:

  • Berikan ASI atau cairan yang cukup.
  • Tetap berikan makan sesuai kebutuhan anak.
  • Kompres hangat bila anak demam.
  • Berikan pakaian yang nyaman dan tidak terlalu tebal.
  • Ikuti anjuran dokter mengenai pemberian obat penurun panas bila diperlukan.

demam anak

Segera konsultasikan ke dokter apabila anak mengalami:

  • Demam sangat tinggi.
  • Kejang.
  • Sesak napas.
  • Tangisan terus-menerus yang sulit ditenangkan.
  • Reaksi alergi berat.

Pilih Klinik Vaksinasi yang Nyaman untuk Si Kecil

Tak cuma hadir sebagai klinik gigi keluarga, Medikids dan MHDC Clinic juga memiliki layanan kesehatan umum dan vaksinasi. Klinik vaksin terdekat ini juga menyediakan layanan dokter spesialis anak untuk perawatan si kecil yang lebih menyeluruh. Selain DPT, tersedia juga pilihan imunisasi dasar lainnya seperti vaksin MMR, Polio, BCG, dan masih banyak lagi.

Harga vaksin DPT di Medikids mulai dari Rp645.000, dengan pilihan paket yang dirancang untuk memudahkan parents dalam melengkapi imunisasi si Kecil. Kamu bisa mendapatkan layanan ini di beberapa cabang seperti Medikids Surabaya, Medikids Bandung, Medikids Bogor, dan masih banyak lagi. Informasi lengkap terkait booking atau jadwal imunisasi, bisa kamu dapatkan melalui Medikids Care.

harga vaksin anak

Artikel ditulis oleh Awardee Wakaf Produktif dan telah ditinjau oleh drg. Rizky Aditiya Irwandi, M.Sc, P.hD.

Sumber:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Instagram MHDC GROUP